Day 1 - Arrived in Cairo

Jakarta, 5 Juli 2012
Sudah diwanti-wanti sama Om kalo berangkat ke Bandara Soeta jam 10an aja biar nggak macet pas perjalanan, secara jam keberangkatannya jam 1 siang.

Ke Mesir, sendirian, nggak sama keluarga atau minimal ada teman lah, semua itu merupakan hal yang belum pernah saya bayangkan sebelumnya. Biasanya ke luar negri minimal sama keluarga atau sama teman, tapi ini saya merasa sangat spesial dengan keadaan saya waktu itu, tidak ada rasa takut sedikitpun di benak saya dengan "kesendirian" itu..


Akhirnya negri yang saya impi-impikan untuk saya kunjungi itu menerima kedatangan saya, berjalan kaki menuju Check In Counter rasanya mau lompat-lompat kegirangan, hehehe.
Tepat jam 11 saya check in di Counter Saudi Arabian Airlines, masih ada waktu 2 jam sebelum keberangkatan, saya sempatkan untuk makan siang dulu di sebuah cafe di Duty Free, kalo nggak salah saya pesan nasi goreng dan es teh, makanannya minimalis sih tapi harganya maximalis, mahal gila, tapi gak papa deh, jarang-jarang bisa gini.

Saudi Arabian Airlines Boeing 747 di Bandara Soeta
Oh ya, tips traveling ke Negara Timur Tengah saya sarankan untuk lebih memilih maskapai Timur Tengah juga, spesifiknya saya sarankan untuk memilih Saudi Arabian Airlines, kenapa? setelah saya lakukan penelitian dan pembandingan harga tiket antara Saudi Arabian Airlines, Ettihad, Qatar Airways, Oman Air, dan Emirates, harga tiket Saudi Arabian Airlines adalah yang paling murah, pada waktu itu saya membayar 9 juta-an untuk pulang-pergi dengan transit berangkat di Jeddah dan transit pulang di Riyadh - KSA.


Selama di pesawat saya hanya tidur-tidur dan tidur, emang mau liat apa sih?
Begitu sampai di Jeddah pun kerjaan saya ya tidur juga, mau makan udah nggak nafsu, toh di pesawat berikutnya juga bakalan dikasih makan.
Tapi kemarin sempet excited banget waktu perjalanan dari Jeddah ke Cairo, pesawat yang saya tumpangi itu Airbus A330, pesawat itu merupakan Airbus pertama bagi saya untuk ditumpangi, interior dalam pesawatnya simple nggak seribet dan sejelek Boeing 747 yang sebelumnya saya tumpangi dari Jakarta - Jeddah.



Interior dalamnya simple
Jarak ke Mesir semakin dekat, rasa kantuk saya perlahan-lahan mulai hilang, di pesawat terakhir ini saya hanya diam dipinggir jendela sambil menikmati pemandangan malam (yang jelas nggak keliatan apa-apanya sama sekali). Sempet diajak bicara sama nenek kulit hitam dengan bahasa arab, ya saya tanggapi saja dengan bahasa arab saya yang masih tertatih-tatih ini, ternyata dia minta tolong handphonenya digantikan SIM Cardnya dengan nomor Mesir, dan cara berterima kasihnya nenek itu menurut saya agak berlebihan tapi saya sudah terbiasa dengan orang seperti itu (maklum lah sama-sama orang arab). Kebetulan cabin pesawat waktu itu tidak banyak penumpang, bahkan tempat sebelah saya kosong, dan tanpa malu-malu saya selnjorkan kaki saya ke samping, biarlah orang berpendapat saya ndeso, lha wong orang itu tidak mengenal saya..

6 Juli 2012, Cairo 3.15 AM


Alhamdulillah, telah tiba-lah saya di Negri para Firaun..
Cairo, I am here!!
Setelah mendapatkan stempel imigrasi dan claim bagasi, saya bersegera menuju luar airport, lagi-lagi saya kaget dengan dikerubungi supir taxi yang menyediakan jasanya untuk mengantar saya ke tempat tujuan saya, tapi saya menolak semuanya dengan halus karena saya sudah dijanjikan akan ada yang menjemput saya

Tapi... tidak ada tanda-tanda orang dari pihak Universitas yang menjemput saya, langsung saya nyalakan handphone saya dan tiba-tiba ada sms masuk yang berbunyi "Saleh, once you arrived in Cairo, please call +20100XXXXX. Waduh! Mana bisa saya telpon nomer tersebut lha nomer yang saya pakai adalah nomer Indonesia dan tidak bisa menelpon nomer tersebut, dan saya sudah berusaha mencari telpon umum tapi tidak ada sama sekali.
Dengan modal nekat saya dekati supir taxi yang menurut saya "baik", dengan bahasa Inggris saya minta ijin untuk menelpon nomer yang sudah diberikan kepada saya dari teman saya, dan dia dengan senang hati memberikan handphonenya kepada saya, tapi lagi-lagi ada masalah. Ketika saya menelpon, yang ada suara seperti om-om berbahasa arab dengan aksen Mesir yang sangat kentara sekali, saya jelaskan kepadanya bahwa saya sudah menunggunya di Cairo International Airport tapi orang itu sepertinya tidak mengerti bahasa arab saya, lalu saya berikan handphone tersebut kepada supir taxi (orang Mesir) yang saya pinjam handphonenya untuk berbicara kepada om yang saya telpon, saya beritahu kepada supir taxi tersebut bahwa nama saya Saleh dan saya menunggunya di Airport. Sebagai balas jasa karena sudah meminjamkan handphonennya, saya berka dia uang dua puluh ribu rupiah (lho kok rupiah?), saya katakan kepadanya bahwa uang itu sama dengan  sekitar 7 Egyptian Pound dan diapun menerimanya, saya harap ada Money Changer yang mau menukar uang itu buat dia. Alhamdulillah, supir taxi tersebut memberi tahu saya bahwa penjemput saya akan datang setengah jam lagi.

Yah, namanya juga negara berkembang seperti Indonesia, budaya jam karet di Mesir ini juga masih ada kok (heran deh), saya menunggu yang harusnya setengah jam sudah dijemput tapi sampai jam setengah 5 masih belum ada yang menjemput, dan kemudian ketika saya sedang duduk-duduk di trolley koper saya ada seseorang bapak-bapak tambun berwajah ramah menyapa saya dan bertanya apakah saya  Saleh, langsung saja saya jawab bahwa saya Saleh, dan dialah si Paman Ahmed yang menjemput saya.. Alhamdulillah... Bayangan saya akan nasib saya yang terlantar di Mesir pupus sudah...

Sambil berjalan ke tempta parkir, Paman Ahmed meminta saya ntuk menelpon Abdel Khalek (teman saya yang tinggal di Mesir) untuk memberi tahu dia kalau saya sudah siap meluncur ke Ismailia.
Paman Ahmed
Sampai di depan mobil saya memasukkan koper saya ke bangku belakang (bukan di bagasi mobil) katanya Paman Ahmed biar nggak repot kalo udah sampai tujuan, waktu saya memasuki mobil saya terkejut karena saya salah masuk pintu, saya membuka pintu untuk sopir, alamak! saya baru ingat kalo roda kemudi di Mesir itu di sebelah kiri dan saya malah masuk dari sebelah kiri, Paman Ahmed tertawa terpingkal-pingkal dan sayapun hanya tersenyum bodoh.
Perjalanan dari Cairo ke Ismailia sangatlah menyenangkan, Paman Ahmed yang menjemput saya adalah orang yang talk-active, dia menanyakan dari mana asal saya dan transit dimana sebelumnya, kadang-kadang dia menjelaskan arah-arah jalan dimana saya bisa menemukan pantai atau bahr, dia tertawa sewaktu saya terkejut lagi melihat bajaj alias tuk-tuk, jujur saya tdak pernah tahu kalau di Mesir ada bajaj, saya hanya tau kalo bajaj hanya ada di Indonesia, Thailand dan India, nggak tahunya ada juga disini.

Kurang lebih sama suasana jalan di Mesir dengan Indonesia
Suasana perjalanan Cairo ke Ismailia pada pagi hari sangat menyenangkan, jendela mobil dibuka lebar-lebar dan saya merasakan angin langsung menerpa wajah dan masuk ke telinga saya, sampai-sampai saya menyumpal telinga saya dengan tissue agar tidak masuk angin tapi overall sangat menyenangkan naik mobil bersama Paman Ahmed, selalu saja ada yang dibicarakan jadi nggak boring.

*to be continued, blogpost berikutnya saya akan menggunakan bahasa Inggris




1 comment:

Nurul Badriyah Abdalah said...

What are you doing there ? I think Arabian Arabic is little different with Egyptian Arabic.